;

Ads

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

4 Mei 2012

Walau Tak Lulus SMA Wanita ini Menjadi Milyader

4 Mei 2012


KAlau di Amerika baru-baru ini heboh dengan berita anak kecil calon milyader ternyata kisah pemilik susi air juga luar biasa dia Susi Pujiastuti adalah contoh seorang enterpreneur tulen. Dia memulai semuanya dari bawah sebagai pedagang ikan hingga sukses dengan aset ratusan miliar rupiah. Jalur hidupnya yang keras tergambar jelas dari kerut di wajah wanita ini. Wanita yang tidak tamat SMA ini memiliki dua perusahaan yaitu PT ASI Pujiastuti Marine Product dan maskapai carter Susi Air dengan 22 unit pesawat dengan ribuan karyawan.Hal ini membuat PT Excelcomindo Pratama (Tbk), perusahaan telekomunikasi menganugerahinya sebagai The Best Indonesia Berprestasi pada tahun 2009.

Jalanan hidup wanita ini memang penuh liku-liku. Setelah memutuskan keluar saat SMA di Cilacap, Jawa Tengah pada 1983, Susi mulai menjalani pekerjaannya sebagai pengepul ikan dengan modal pas-pasan. Usahanya terus berkembang, setahun kemudian dia berhasil menguasai pasar Cilacap.

Tak puas hanya di satu daerah, Susi mulai melirik daerahPangandaran. Ternyata justru di wilayah selatan Jawa Barat inilah usaha ikannya makin maju pesat. Bila tadinya yang diperdagangkan hanya sebatas ikan dan udang, Susi mulai mulai menjual komoditas yang lebih berorientasi ekspor, yaitu lobster. Dia membawa dagangannya sendiri ke Jakarta untuk restoran-restoran dan diekspor.

Karena permintaan luar negeri sangat besar, untuk menyediakan stok lobster, Susi harus berkeliling Indonesia mencari sumber-sumber persediaan lobster. Masalah pun timbul, problem justru karena stok sangat banyak, tetapi transportasi yang sangat terbatas. Untuk mengirim dengan kapal terlalu lama, tetapi pesawat di daerah pedalaman sangat jarang.

Pada saat itulah timbul ide Susi untuk membeli sebuah pesawat. Hal ini juga didukung oleh suaminya Christian von Strombeck, seorang pilot pesawat carteran asal Jerman sekitar sepuluh tahun lalu. Sebuah pesawat jenis Cessna, ternyata berhasil membantu meningkatkan produktifitas perdagangan ikannya. Dengan adanya transportasi yang mudah ini semakin meningkatkan daya jual nelayan di daerah.

"Nelayan bisa mendapatkan nilai tambah. Misalnya saja, lobster di Pulau Mentawai yang tadinya hanya dijual Rp 40 ribu per kilo, setelah itu bisa dinaikkan menjadi Rp 80 ribu per kilo, saat itu," kata Susi kepada PersdaNetwork.

Kebutuhan akan pesawat pun semakin meningkat seiring dengan ekspor yang terus bertambah. Nah, ternyata pesawat yang tadinya hanya untuk membawa barang dagangan ini pun kemudian disewakan kepada masyarakat yang ingin menumpang. "Tadinya beli satu, lalu beli lagi. Ternyata permintaan transportasi sangat besar, karenanya kita pun mengembangkan bisnis pesawat carter ini dan Susi Air," ujarnya.

Saat ini, Susi Air telah memiliki 22 armada pesawat kecil antara lain Cessna Grand, Avanti dan Porter yang dioperasikan oleh 80 orang pilot, 26 di antaranya adalah pilot asing. Cessna saat ini harganya Rp 20 miliar per unit, sedangkan Avanti empat kali lebih mahal.

Untuk Susi Air, saat ini telah beroperasi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Namun untuk mengembangkan bisnisnya itu, Susi bertekat untuk menambah armada hingga 40 unit. Paling tidak sedikitnya membutuhkan dana sebesar Rp 200 miliar.

"Yang penting kita harus meningkatkan layanan, agar pelanggan semakin suka pada kita," demikian katanya berfalsafah. 

 

KALUNGUSUS - 06.38

3 Mei 2012

Motivasi : Belajar Dari Pendiri e-Bay

3 Mei 2012


Pierre Omidyar yang berdarah Iran lahir di Paris, 12 Juli 1967. Saat dia masih belia, keluarganya migrasi ke Amerika Serikat. Ayahnya bekerja di pusat kesehatan Universitas John Hopkins. Karena Omidyar berakar dalam keluarga pekerja keras, ia cenderung larut dalam pekerjaan detail, rumit, dan menantang. Bahkan sejak SMP ia sudah tergila-gila mengotak-atik komputer.

Gelar kesarjanaannya di Universitas Tufts memang di bidang ilmu komputer.
Karier pertamanya dirintis di Claris, anak perusahaan Apple Computer. Di situ, dia menjadi anggota tim pengembang perangkat lunak MacIntosh. Tahun 1991, bersama tiga konconya, Omidyar mendirikan Ink Development Corp, yang menyasar segmen pasar virtual.
Tak lama perusahannya berubah nama menjadi eShop Inc. Perusahaan ini kemudian dibeli Microsoft pada tahun 1996. Kendati demikian, Omidyar tetap begumul dengan tantangan teknis bisnis di dunia maya komputer.
Omidyar tinggal di daerah dekat teluk San Fransisco (SF Bay). Di daerah itu pula dia jumpa dengan Pamela Wesley, sarjana biologi yang berkarier sebagai konsultan manajemen. Singkat cerita, Omidyar menikahi Pamela.

Di suatu senja bulan September 1995, saat makan malam, Pamela cerita soal hobi lamanya bersama tetangga dan sahabatnya, yaitu mengoleksi dan berjualan Pez Dispenser. Ini semacam tempat permen, mainan anak. Barang-barang ini telah mereka bungkus selama beberapa tahun dalam berbagai plastik warna-warni. Banyak diantaranya karakter kartun klasik. Pokoknya menarik dan unik. Cuma sayang, Pamela dan kawannya itu tidak punya akses untuk memperdagangkannya di daerah sekitar Teluk San Fransisco.

Rupanya, percakapan di seputar meja makan ini jadi bahan pemikiran sang suami. Omidyar berupaya membantu istrinya berkomunikasi dengan komunitas penggemar Pez Dispenser lewat internet. Awalnya, dia berpikir, "Ah, paling banter fasilitas swap elektronik yang kukembangkan sekadar jadi ajang rumpi para tetangga saja."

Maka, dengan ringan ia menamakan hasil hobi otak-atik komputernya dengan sebutan Electronic Bay Area (daerah teluk elektronik), yang akhirnya kondang dengan panggilan eBay.
Selanjutnya sejarah bisnis modern mencatat pertumbuhan fenomenal bisnis Omidyar yang bermula dari hobi otak-atik komputer dan niat membantu istrinya, hingga akhirnya jadi bisnis berskala milliaran dolar!

Pengamat bisnis menyebut Omidyar telah menciptakan format ritel masa depan. Jumlah barang yang diperdagangkan lewat infrastruktur eBay saat ini lebih dari 15 juta jenis! Anda bisa intip bisnis Omidyar di: www.eBay.com.

Paling tidak ada lima hal yang bisa kita pelajari dari figur muda yang fenomenal ini.

Pertama, kemampuannya memusatkan perhatian pada suatu hal (fokus), dan tekun mendalaminya (detail).

Kedua, saat mengembangkan usahanya, Omidyar mampu menempatkan dirinya dengan tepat sesuai dengan minat dan kompetensinya. Ia mampu membagi peran dengan pas. Ia tidak memegang jabatan CEO di perusahaannya. Posisi ini dipercayakan pada Meg Whitman, seorang profesional. Omidyar sendiri fokus pada inovasi memperkaya fasilitas eBay dan berkutat mencari ide-ide baru demi melengkapi situsnya.

Ketiga, kecintaan dan semangat (passion) untuk menolong orang banyak mendapatkan pembeli bagi produk yang mau dijualnya. Ini telah mewarnai jiwa melayani yang kuat di dalam perusahaannya, sehingga sulit disaingi kompetitor.

Keempat, ia sangat terbuka pada hal baru dan sikapnya sangat optimistis. Ini membuatnya selalu bisa menemukan cara baru mengembangkan bisnisnya.

Kelima, memulai dari apa adanya. Biarpun cuma jadi ajang rumpi tetangga dan kerabat istrinya, ia terus berimprovisasi dan bekerja efisien. Omidyar terkenal efisien dan cekatan. Konon, ia cuma mengutip uang jasa yang kecil, namun bisnisnya berkembang lewat proses yang benar, momen yang pas karena kesigapan Omidyar tanggap pada setiap peluang yang muncul. Dalam tiga tahun beroperasi, eBay go public.

KALUNGUSUS - 00.20

30 Apr 2012

Motivasi : Cara Bertumbuh Di Tempat Statis

30 Apr 2012

Catatan Kepala: ”Tumbuh itu tidak selalu berarti tubuh kita semakin besar. Atau jabatan kita semakin tinggi. Tumbuh berarti kualitas pribadi kita menjadi lebih baik.”

Jika Anda bersepeda di kelas RPM (Raw Power in Motion) di fitness center, Anda tidak akan pernah ketinggalan oleh orang lain. Selama bersepeda itu, semua orang ada di ruangan yang sama. Dan tetap diposisi yang sama. Kantor kita, kira-kira seperti ruang RPM itu. Selama bertahun-tahun, setiap orang berada di ruangan dan posisi yang sama dengan kita. Lalu kita merasa bahwa, seperti halnya orang-orang itu; karir ini sudah mulai ‘mandek’. Benarkah begitu?
Sesekali, pergilah ke kelas RPM di fitness center. Saat mengayuh sepeda statis itu, sekalian Anda renungkan. Betapa keberadaan kita bersama orang lain sama sekali bukanlah penanda bahwa pertumbuhan kita sama dengan orang lain. Di kelas RPM. Anda akan menemukan bahwa, meskipun Anda tetap berada di tempat dan ruang yang sama dengan orang lain. Namun hakekatnya, setiap orang telah menempuh jarak dan ketinggian tanjakan yang berbeda. Seperti itulah pula sesungguhnya perkembangan karir kita. Ditempat paling statis sekalipun, kita bisa loh tetap bertumbuh. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar bagaimana caranya untuk bisa terus bertumbuh di tempat kerja yang statis, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:   

1.     Mengambil beban yang menantang.
Di kelas RPM, setiap orang menentukan sendiri beban tanjakan yang akan ditempuhnya. Ada orang yang hanya mau menempuh tanjakan ringan-ringan saja. Mereka memasang resisten sepedanya rendah saja. Nyaman dan tidak harus ngos-ngosan. Keringat pun hanya sedikit menetes dari tubuhnya. Ada juga orang yang berani menantang kekuatan dirinya. Dipasangnya resisten yang cukup berat. Lalu dia mengayuh dengan susah payah. Sekarang keringatnya bercucuran seperti air yang tertumpah. Di kantor juga begitu. Ada orang yang hanya mau mengerjakan tugas-tugas mudah. Dan ada yang bersedia menantang pekerjaan yang sulit untuk ditangani.  Sama seperti di kelas RPM, mereka yang berani mengambil tanggungjawab lebih besar, memperoleh reward ‘kebugaran’ yang lebih besar. Dan mereka, terus bertumbuh lebih baik.

2.     Mengayuh lebih cepat, menempuh lebih jauh.
Di kelas RPM, jika Anda mengayuh lebih cepat dari orang lain. Maka Anda akan menempuh jarak yang lebih jauh daripada orang lain. Meskipun secara fisik Anda dan mereka tetap berada di ruang yang sama. Di kantor pun demikian. Jika Anda bisa menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dari orang lain. Maka dalam rentang waktu yang sama; Anda bisa menghasilkan lebih banyak dari mereka. Meskipun kelihatannya Anda dengan mereka tetap berada di ruangan yang sama. Namun tingkat produktivitas Anda, jauh lebih tinggi daripada orang lain. Dan Anda menjadi pribadi yang unggul disana.

3.      Memanfaatkan waktu yang ada.
Berbeda dengan sepeda biasa. Sepeda statis di kelas RPM itu tidak pernah berhenti berputar. Sehingga mau tidak mau Anda harus terus mengayuh. Walhasil, tidak ada sedikitpun waktu Anda yang terbuang percuma tanpa ada kalori yang dibakar. Itulah yang menjadikan kelas RPM sangat efektif dan efisien. Di kantor juga sama. Waktu tidak pernah berhenti berputar sehingga mau tidak mau, Anda mesti terus menjalaninya. Namun kebanyakan orang membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tidak produktif. Jika teman Anda begitu, maka itu adalah kesempatan bagus buat Anda untuk mengungguli mereka. Manfaatkanlah waktu yang ada untuk mengerjakan hal-hal produktif. Maka Anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari orang lain.

4.     Menghindari komplain soal penugasan.
Di kelas RPM, tidak pernah ada orang yang mempermasalahkan; mengapa orang lain memasang resisten rendah dan mengayuh dengan perlahan? Di kantor, sebaliknya. Banyak orang yang komplain. Mengapa pekerjaan orang lain lebih ringan daripada dirinya. Di kelas RPM, setiap pribadi menantang dirinya hingga ke puncak kemampuan kayuhan tertingginya. Mereka penasaran jika belum sampai pada batas maksimal kekuatan dirinya. Di kantor. Anda perlu bersikap seperti itu. Yaitu, tidak ikut-ikutan komplain soal penugasan lebih ringan yang didapatkan orang lain. Melainkan berusaha keras untuk menantang diri sendiri dengan penugasan yang bisa membawa Anda kepada puncak kemampuan kinerja tertinggi Anda. Dijamin. Anda akan unggul disana.

5.     Posisi sekarang, latihan untuk posisi mendatang.
Kelas RPM itu, hanyalah latihan. Kebugaran yang sesungguhnya akan dirasakan oleh setiap orang, setelah mereka keluar dari ruang latihan itu. Ketika mereka menjalani aktivitasnya sehari-hari. Begitu pula halnya dengan tugas-tugas Anda saat ini. Semua itu tidak lain adalah arena latihan bagi Anda, agar kelak jika Anda mendapatkan kesempatan untuk memperoleh tanggungjawab yang lebih besar; Anda sudah siap. Semakin tangguh seseorang di kelas RPM, semakin bugar dia dikesehariannya. Semakin tangguh Anda di posisi saat ini, semakin siap Anda untuk menghadapi peluang penugasan yang lebih besar kelak. Makanya, perlakukanlah penugasan Anda saat ini sebagai sarana latihan dalam menyiapkan diri Anda untuk menghadapi penugasan yang lebih besar.

Kata ‘mandek’ hanya cocok bagi mereka yang tidak bertumbuh lagi. Sedangkan kita tahu bahwa tumbuh itu tidak selalu berarti tubuh kita semakin besar. Atau jabatan kita semakin tinggi. Tumbuh berarti kualitas pribadi kita menjadi lebih baik. Dan untuk bisa bertumbuh, Anda tidak membutuhkan teori-teori yang rumit. Untuk bertumbuh, Anda hanya membutuhkan kesungguhan dalam menyelesaikan tugas-tugas harian. Karena didalam tugas-tugas harian kita itu, ada kesempatan untuk membangun keunggulan.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Next Batch Training ”Natural Intelligence Leadership” 13-14 Juni 2012
Info lebih lanjut: 0812 19899 737 atau 0812 1040 3327.

Catatan Kaki:
Ditempat paling statis pun kita masih bisa terus bertumbuh. Jika kita terus gigih untuk membangun keunggulan pribadi. Tanpa henti.

KALUNGUSUS - 20.23

23 Apr 2012

6 tanda orang terobsesi menikah

23 Apr 2012


Anda seorang pria/wanita umur 25-30 th, dan anda belum menikah, dan Anda termasuk orang yang terobsesi untuk segera menikah? bagi sebagian orang pernikahan adalah sebuah impian. Baik secara sadar atau tidak, mereka pun berusaha mati-matian untuk menemukan jodoh atau memaksakan diri agar segera menikah. Apakah Anda salah satunya?

Menurut Dr. Phil --pakar hubungan yang sering tampil di acara talkshow Oprah-- banyak hal yang perlu dipetimbangkan matang-matang sebelum akhirnya menikah. Oleh karena itu, Dr Phil menyarankan agar Anda memikirkan beberapa pertanyaan di bawah ini terlebih dulu.

1. Apakah yang menjadi fokus Anda sebenarnya? Apakah Anda terobsesi dengan fantasi tentang pesta pernikahan atau memang benar ingin menikah? Jika Anda mendambakan 'pesta pernikahan yang sempurna',ingatlah bahwa pernikahan ala dongeng tidak pernah ada. Segala hal bisa saja berubah menjadi tak sesuai harapan, walau acara sudah dipersiapkan dengan matang.

2. Apakah Anda sudah merencanakan detail pernikahan walau masih berstatus single? Dr Phil memperingatkan, jika Anda terlalu sibuk berandai-andai mengenai pesta pernikahan ala Cinderella ketimbang menjalani kehidupan nyata, jangan heran apabila sang pangeran tidak kunjung datang.

3. Perlu diketahui jika Anda terlalu putus asa untuk menikah, Anda secara tidak sadar mengirimkan sinyal yang membuat lawan jenis merasa ketakutan. Menurut Dr Phil, tujuh persen dari komunikasi adalah verbal sedangkan 93% lainnya non-verbal. Terlalu sering menyentuh atau memberikan mimik wajah iri ketika melihat orang lain menikah, mungkin?

4. Apakah Anda berpikir bahwa menikah akan melengkapi hidup? Hal tersebut adalah pikiran yang salah. Bukan menyarankan untuk tidak menghargai pernikahan, tetapi Anda tidak dilahirkan untuk menjadi'setengah' dan baru menjadi manusia seutuhnya jika sudah menikah.

5. Jika Anda sudah memiliki pasangan, apakah Anda sudah membahas segala hal mengenai kehidupan pernikahan dengannya? Mulai dari karir, pembagian kerja, uang, anak-anak, mertua dan bahkan tempat tinggal. Jika belum, bagaimana Anda bisa yakin bisa menggabungkan dua kehidupan yang berbeda?

6. Apakah Anda merasa tertekan secara sosial karena belum menikah? Mungkin di lingkungan Anda, ada anggapan bahwa wanita yang belum menikah tidak bisa dianggap sebagai wanita dewasa. Ingatlah bahwa pemikiran tersebut tidaklah benar, menikah belum tentu membuat Anda menjadi orang dewasa.

semoga anda segera menikah,,, dan ternyata menikah itu asyik betul selamat mencoba

KALUNGUSUS - 15.35

29 Mar 2012

Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now

29 Mar 2012

Sepuluh tahun yang lalu, kalau saya ditanya apakah tipsukses saya, mungkin saya tidak bisa menjawab. Sekarang, sukses bagi saya bukanlahketika buku saya menjadi best-seller atau ketika menerima  pujian untuk artikel ilmiah yang diterbitkandi jurnal terkemuka di Inggris Raya. Sukses bukan pula ketika saya dan suamiberhasil juga  membeli rumah di SanFrancisco Bay Area dengan keringat sendiri  setelah hampir sepuluh tahun merantau diNegeri Paman Sam.
Sukses bagi saya adalah mindset. Sukses adalah saya; sayaadalah sukses. Sukses bukan tujuan, bukan pula perjalanan. Success is about beingdan becoming.
Berani dan overconfident kedengarannya? Mungkin, yang jelasribuan bahkan jutaan manusia "sukses" di dunia alias manusiabermental juara mempunyai mindset seperti ini.
Apakah Anda perlu menjadi juara tenis tingkat Wimbledon ataujuara golf profesional di PGA Pebble Beach untuk disebut "sukses"?Apakah Anda perlu mengendarai Corvette dan Lexus SUV hybrid? Jelas tidak.  Seorang bermental juara alias bermindset"orang sukses" bisa jadi hanyalah seorang salesman saja.
Ambillah contoh Bill Porter, seorang salesman door-to-doordari Portland, Oregon yang terlahir dengan cerebral palsy. Ia berjalan kakisetidaknya 10 mil perhari selama 40 tahun dengan tertatih-tatih setiap haritanpa mengeluh. Hebatnya, karena tubuhnya bagian kiri tidak bekerja sebagaimanaorang normal, ia sebenarnya sangat sulit untuk berjalan tegak dan berbicaradengan jelas. (Baca www.billporter.com, filem Door to Door dan buku berjudulTen Things I Learned from Bill Porter oleh Shelly Brady.) Dengan penghasilan pas-pasandari seorang salesman rumah ke rumah, jelas di mata orang awam ia tidaklahtermasuk kategori "sukses secara finansial."
Namun, bagi saya, Bill Porter adalah salah satu orang palingsukses di dunia yang amat sangat saya kagumi. Salah satu cita-cita saya adalahbertemu muka dengan beliau suatu hari.

Nah, lantas apa resep 10 tip sukses concoction ala Jennie?
Satu, bersyukurlah atas hari ini. "Just to be alive isa grand thing," kata Agatha Christie, salah satu novelis detektifterkemuka. Jauhkanlah perasaan depresi dan sedih tanpa juntrungan. Jalani setiaphari dengan hati penuh syukur. Ingatlah akan Bill Porter. Kalau dia bisa jadiseorang salesman berhasil, apapun yang Anda inginkan sebenarnya pasti bisatercapai.

Dua, belajarlah seakan-akan Anda akan hidup selamanya,hiduplah seakan-akan Anda akan mati besok. Mohandas Gandhi pernah berkata demikian,"Live as if you were to die tomorrow, learn as if you were to liveforever." Belajar terus, upgrade diri terus dengan berbagai cara baik yangmemerlukan effort maupun effortlessly.

Tiga, setiap ketrampilan pasti ada penggunanya. Ini sayadapat dari salah satu sahabat saya seorang wanita blonda dari San Diego. Sahabatsaya Crystal ini pernah membesarkah hati saya, "There are
all kinds of writers, there are all kinds of readers."Ketika saya down karena merasa incompetent bertarung dengan penulis-penulis lokaldi sini, Crystal mengingatkan bahwa setiap jenis penulis pasti ada pembacanya(niche). Find your niche, so you find your place in the world.

Empat, bukalah jalan sendiri, orisinil. Ralph Waldo Emersononce said, "Do not go where the path may lead, go instead where there is nopath and leave a trail." Jangan latah mengikuti orang lain, dengar katahati dan ikutilah jalan yang belum kelihatan.

Lima, belajar mencintai apa yang Anda punyai, bukanberangan-angan akan apa yang Anda tidak miliki. Use whatever you have at hand, impianhanya akan menjadi nyata kalau Anda menggunakan instrumen yang kasat mata saatini juga.

Enam, lihat apa yang kelihatan dan lihat apa yang belumkelihatan. Gunakan visi dan misi untuk mengenal apa yang Anda tuju. Seringkali,apa yang belum kelihatan adalah blue print untuk sukses Anda. Begitu kelihatan,ia akan menjadi semacam de ja vu.

Tujuh, telan kepahitan hidup dan bersiap-siaplah dalammenyongsong hari baru. Setiap hari adalah hari baru. Bangunlah tiap pagi denganhati yang curious akan apa yang akan Anda alami hari itu. Be excited, becourageous to start the day.

Delapan, semakin banyak Anda memberi, semakin banyak Andaakan menerima. The more you give, the more you get in return. Dalam marketing,ini mungkin disebut sebagai taktik public relations atau publicity. Namun,dalam kehidupan sehari-hari, ini juga berlaku tanpa diselipi dengan iming-imingtertentu. Saya sendiri sudah membuktikannya. Semakin banyak kita memberi (dalamarti luas, tidak terbatas uang dan materi), semakin besar penghargaan danberkat yang kita terima.

Sembilan, jadilah mentor diri sendiri. What would Oprah do?Itu yang saya pakai sebagai ukuran. Saya tidak memilih Nabi atau pembesar negara,namun seorang wanita berkulit berwarna yang telah membalikkan nasibnya sendirimenjadi salah satu orang berpengaruh di dunia.

Sepuluh, saya eksis dengan maupun tanpa tubuh saya.Setidak-tidaknya sekali sehari, saya mengingatkan diri sendiri bahwa hidup ini bukanlahuntuk selamanya. Maka berbuatlah terbaik pada saat ini juga. Jangantunggu-tunggu lagi. "Just do it," kata Cher di Farewell Concertnyabeberapa tahun yang lampau. I do my best every chance I have. Berbuatlahterbaik di setiap kesempatan, karena itu mungkin yang terakhir.
Ingatlah sukses bukanlah tujuan, bukan pula perjalanan.Sukses adalah mindset. Bukan hanya cogito er go sum (saya berpikir maka sayaada), namun sum ego prosperitas (sukses adalah saya).

Sumber: Sepuluh Tip Sukses Right Here, Right Now by JennieS. Bev. Jennie S. Bev is a prolific author and co-author of 17 books and over 850articles published in the United States, Canada, UK, France, Germany, Singaporeand Indonesia. She is based in scenic Northern California where she resideswith her husband.

KALUNGUSUS - 19.54

23 Mar 2012

Motivasi : Euforia Coaching & Counseling

23 Mar 2012

Catatan Kepala: 
”Semangat dan tindakan yang didasari dengan ilmu jauh lebih berdampak  daripada sekedar melakukan sesuatu karena euforia belaka.”

Akhir-akhir ini kita sering mendengar orang berbicara tentang Coaching & Counseling. Ada bagusnya juga sih. Namun, kadang agak janggal juga ketika pembicaraan itu berlangsung pada pada konteks yang tidak tepat. Bahkan, banyak juga orang yang ternyata tidak benar-benar memahami kosa kata yang digunakannya. Misalnya, ketika ditanya: “APA SIH BEDANYA COACHING DENGAN COUNSELING?” Masih banyak yang bingung. Padahal, keliru memahaminya bisa menyebabkan keliru juga melakukannya. Tidak heran jika proses Coaching & Counseling sering tidak berhasil mencapai tujuannya masing-masing. Karena tanpa ilmu, sesuatu yang kita lakukan tidak bisa memberikan hasil optimal. Apakah Anda pernah melakukan Coaching dan atau Counseling?
Salah satu resiko kekeliruan dalam menerapkan prinsip Coaching & Counseling adalah ketika kita tidak bisa mengenali batas-batasnya. Sesuatu yang seharusnya kita tangani dengan teknik Counseling – misalnya – secara keliru kita hadapi dengan teknik Coaching. Maka hal itu bisa menimbulkan kebergantungan bawahan kepada kita. Bukan hanya itu, kita bisa terbawa kedalam arus pusaran masalahnya. Apa lagi jika antara kita dengan bawahan itu berjenis kelamin berbeda.

Kita bisa saja menyelesaikan masalah semula, namun menghasilkan masalah yang baru antara kita dengan bawahan yang kita bimbing. Segala sesuatu memang ada ilmunya. Bukan sekedar mengikuti euphoria yang sedang berkembang di lingkungan kita. Semangat dan tindakan yang didasari dengan ilmu jauh lebih berdampak daripada sekedar melakukan sesuatu karena euforia belaka. Maka mempelajari dengan baik teknik Coaching & Counseling merupakan sebuah kebutuhan bagi para leader, supaya dalam melakukannya kita tidak sekedar meraba-raba. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami lebih dalam Coaching & Counseling, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Pahami perbedaan fungsi dan tekniknya.  
Sama seperti kita menggunakan kunci pas. Setiap kunci ada ukurannya masing-masing. Kita tidak bisa menggunakan kunci pas ukuran 15 untuk memutar baut seukuran 13, misalnya. Begitu pula halnya dengan Coaching & Counseling. Tanpa pemahaman itu, kita tidak bisa memposisikan diri dengan benar ketika berhadapan dengan bawahan yang membutuhkan bantuan kita. Dengan kata lain, kita tidak akan tahu persis apa sih fungsi kita ketika memainkan peran sebagai seorang Coach, dan apa fungsi kita ketika berperan sebagai seorang Counselor. Ingatlah bahwa seorang Coach mempunyai fungsi yang berbeda dengan Counselor. Begitu pula teknik dalam melaksanakan tugasnya. So, pahamilah perbedaan fungsi dan teknik diantara keduanya. Sehingga ketika Anda menerapkannya bersama anak buah, maka Anda akan bisa melakukannya dengan sebaik mungkin.

2. Pahami dan patuhi batasan-batasannya.  
Bayangkan kalau seorang striker tidak memahami batasan-batasan atau perbedaan mendasar antara kewenangan striker dengan goal keeper. Bisa-bisa dia menangkap bola dengan tangannya di depan gawangnya sendiri bukan? Jika itu terjadi, dia bisa menyebabkan hukuman tendangan penalty yang merugikan teamnya. Begitu pula dengan Coach atau Counselor yang tidak mengenal batasan-batasan tugas, tanggungjawab dan kewenangan yang dimilikinya. Jika Anda pernah mendengar kasus dukun cabul, itu adalah salah satu contoh buruk yang terjadi ketika seseorang datang kepada orang yang dianggap bisa memberikan solusi bagi masalah pribadinya. Haaaa, kita kan bukan dukun. Anda mungkin berkilah demikian. Benar. Tetapi, bukan hanya dukun lho: ‘psikolog’ atau bahkan ‘guru BP’ pun bisa tergelincir jika dia tidak memahami dan tidak mematuhi batasan-batasannya. Bagaimana dengan kita bersama bawahan yang kita bimbing? Sama saja. Jika tidak pernah mendengar potret buruk kesalahkaprahan coaching dan counseling antara atasan dan bawahan ini di koran merah, itu tidak berarti tidak pernah terjadi. Tidak terekspose saja. Namun semua ekses itu tidak perlu terjadi jika kita memahami dan mematuhi batasan-batasannya.

3. Pelajari seni kombinasinya. 
Dalam prakteknya, seorang leader kadang dihadapkan pada kasus-kasus yang tidak bisa diselesaikan dengan teknik Coaching saja. Atau Counseling saja. Pada tahapan masalah yang kronik, dampaknya bisa berefek kemana-mana. Maka ada situasi dimana sebagai leader kita dituntut untuk mampu mengkombinasikan teknik Coaching dengan Counseling secara simultan. Ini memang sudah termasuk kemampuan advance. Sebaiknya dilakukan oleh orang yang benar-benar terlatih. Apakah tanpa latihan kita bisa melakukannya? Tidak. Sekalipun Anda benar-benar memiliki bakat alam yang kuat. Latihan? Mutlak untuk dilakukan. Dalam konteks ini, hal yang perlu kita latih ada dua, yaitu: (1) Teknik kombinasinya dan (2) pengendalian diri. Mengapa pengendalian diri? Karena tantangan paling besar yang dihadapi oleh seorang Coach atau Counselor bukanlah yang datang dari seseorang yang sedang dibimbingnya. Melainkan dari dalam dirinya sendiri. Hanya jika mampu menguasai kedua aspek itu saja, kita bisa menguasai seni kombinasinya. Tidak bisa tidak. Karena kedua hal itu, mutlak perlunya.

4. Ikuti perkembangan ilmunya. 
Sepanjang waktu, ilmu terus berkembang. Maka barangsiapa yang enggan untuk mengikuti perkembangan tumbuh kembangnya ilmu, hampir bisa dipastikan akan ketinggalan zaman. Dia mungkin tidak menyadarinya. Namun orang lain yang mengerti tahu betul jika teori dan tekniknya sudah usang. Masak sih kalau gadget komunikator selalu kita ikuti perkembangannya dari waktu ke waktu, sedangkan ilmu yang sangat menunjang kualitas kepemimpinan itu kita biarkan ketinggalan? Dulu, kita hanya berbicara tentang Coaching saja. Atau Counseling saja. Kemudian secara salah kaprah kita menyebutnya Coaching & Counseling. Sekarang, Coaching & Counseling pun masih berkembang lagi dengan kehadiran konsep Mentoring. Makanya dalam sebuah program pelatihan “Coaching – Counseling – Mentoring” yang saya fasilitasi saya sering dihadapkan pada pertanyaan klasik: Coaching – Counseling – Mentoring? Apaan lagi tuch? Kalau ditanya gadget terbaru, kita langsung nyamber. Faham betul feature-featurenya. Apakah kita juga mempunyai ketertarikan yang sama tingginya terhadap perkembangan ilmu Coaching-Counseling-Mentoring? Nah, ini challenge tambahan untuk seorang leader nih.

5. Temukan guru pembimbing yang tepat.  
Salah satu kriteria orang yang tepat bagi kita untuk berguru adalah “mempunyai landasan ilmu yang mumpuni DAN pengalaman praktis dalam pekerjaannya”. Bagus saja jika kita belajar para orang yang rajin membaca textbook. Kita bisa menimba banyak pengetahuan. Namun, tanpa pengalaman empiris, ilmu yang kita dapat hanya sebatas teori belaka. Bagus juga jika kita belajar kepada orang yang terampil dari pengalaman. Kita bisa tahu trik-triknya. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya tanpa sokongan teknik atau ilmu yang memadai. Jadi, lebih baik jika kita bisa menemukan guru atau pembimbing yang memiliki ilmunya sekaligus berpengalaman dalam dunia nyata untuk mempraktekkannya. Jarang? Memang. Namun begitu kita menemukan orang seperti ini, kita bisa mendapatkan keduanya. Orang yang memiliki kedalam ilmu dan keluasan pengalaman seperti ini biasanya tidak takut dihadapkan pada kasus-kasus aktual yang kita hadapi di lapangan. Mereka bukan tipe membuat scenario dirumah, lalu latihan sebelum tampil, kemudian mendemonstrasikannya di depan kelas. Orang yang memiliki ilmu dan pengalaman ini membuka dirinya untuk mendengar langsung dari Anda; “kasus pelik apa yang sedang Anda hadapi?” Lalu bersama Anda, dia mencari solusinya. Mencontohkan. Dan melatih Anda melakukan tahapan-tahapan prosesnya. Ingin belajar Coaching-Counseling-Mentoring? Temukan guru pembimbing yang seperti itu.

Untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, kita perlu terus menerus mengasah kemampuan mengelola orang-orang yang kita pimpin. Apakah untuk tujuan memenuhi target-target kinerja, memecahkan masalah, ataupun untuk mengembangkan mereka. Agar mampu memainkan peran itu, kita perlu membekali diri dengan teknik dan keterampilan yang memadai. Diantara keterampilan-keterampilan yang perlu kita pertajam itu tentu saja Coaching-Counseling-Mentoring harus  ada dalam daftar ceklis. Makanya, yuk kita sama-sama memperdalam ketiga skill itu lagi. Agar kualitas kepemimpinan kita, semakin hari menjadi semakin baik.

Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman 
Trainer, & Public Speaker of Natural Intelligence

Catatan Kaki:
Pengetahuan kita tentang Coaching-Counseling-Mentoring perlu dikonversi menjadi ’keterampilan’ dalam melakukannya. 

KALUNGUSUS - 13.00

8 Mar 2012

Motivasi : Bukan optimis, bukan pula pesimis

8 Mar 2012

Kacamata optimis memandang kue donat dan mengabaikan lubangnya. Sedangkan kacamata pesimis hanya melihat lubang dan menyingkirkan donatnya. Padahal, kenyataannya adalah, sebuah kue donat tersaji di
depan anda, lengkap dengan lubangnya. Optimis atau pesimis hanya sebuah alat bantu dalam memandang dunia ini. Apa pun yang anda pilih, bukanlah realita yang sedang terpampang.
Bahkan, ia takkan mengubah realita itu. Pandangan anda mengubah diri anda
sendiri. Ia mempengaruhi langkah anda. Ia memberikan pilihan-pilihan bagi
anda: dunia yang terang, ataukah buram.
 Adakalanya kita perlu meluruhkan kacamata itu dan memandang begitu saja
tanpa setitik pemikiran;  memandang apa adanya; memandang sepolos mungkin. Maka akan anda temukan suatu dunia yang benar-benar
baru lahir. Sebuah dunia yang tak memberati pilihan anda dengan kecemasan dan harapan. Bahkan ia tak perlu memberikan pilihan apa-apa.

*********************************************************
Stopper:
Hanya setelah kita benar-benar sadar dan mengerti bahwa waktu kita di dunia
ini terbatas, dan bahwa kita tak mungkin mengetahui dengan cara apa pun
kapan waktu kita habis, barulah kita mulai menghayati setiap hari kita
dengan sepenuh-penuhnya, seakan hari ini adalah satu-satunya hari yang
masih kita miliki. (Elisabeth Kubler Ross)

Anda sependapat, saya yakin anda sependapat, bahwa keindahan adalah
satu-satunya alasan mengapa hidup ini ada artinya. (Agatha Christie)

Sumber : milis

KALUNGUSUS - 13.00

6 Mar 2012

Motivasi : Tetap Baik Dalam Lingkungan Buruk

6 Mar 2012

Catatan Kepala: ”Sulit sekali untuk menjadi pribadi yang baik jika kita tinggal di lingkungan yang buruk. Namun, jika keadaan tidak memungkinkan untuk keluar dari lingkungan itu, kita masih memiliki kesempatan untuk menjadi pribadi yang baik.”

Menyingkir merupakan salah satu solusi ampuh untuk menghindari pengaruh buruk lingkungan. Sayangnya, hal itu tidak selalu praktis untuk dilakukan. Jika rumah kita berada di lingkungan yang kurang harmonis, misalnya. Pindah rumah tidaklah selalu murah. Jika suasana kerja dikantor kita tidak lagi kondusif, pindah kerja juga bukan perkara mudah. Mungkinkah kita bisa tetap memiliki sikap dan perilaku baik jika tetap tinggal di lingkungan sedemikian buruk?
 Inilah pertanyaan yang sejak lama mampir di benak saya; “Kenapa, ikan laut tidak ikut menjadi asin?” Meski sepanjang hidupnya ikan itu berendam dalam air asin, namun dagingnya tetap saja tawar. Mungkin ini isyarat yang menunjukkan bahwa – jika mau – kita bisa tetap menjadi pribadi yang baik, meskipun orang-orang disekitar kita pada melakukan keburukan secara berjamaah. Kita, kadang takut tersingkir dari lingkungan jika tidak ikut-ikutan perilaku kebanyakan orang. Jika tidak ‘menyesuaikan’ diri dengan praktek-praktek tak pantas atasan, kita takut karir akan mentok. Jika tidak meniru perilaku tak patut teman-teman, kita akan disisihkan. Hari ini, kita diingatkan kembali bahwa tidak peduli seasin apapun air laut. Seberapa lamapun ikan berendam didalamnya. Daging ikan itu tidak ikut menjadi asin. Dari pelajaran ini kita tahu bahwa; tetap menjadi pribadi yang baik dalam lingkungan yang buruk itu bukanlah sebuah kemustahilan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar menjaga kebaikan pribadi didalam lingkungan yang buruk, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:  

1. Dari asalnya asing kembali menjadi asing. 
Guru kehidupan saya mengajarkan bahwa sebelum para Nabi diutus, manusia hidup dalam masa kegelapan. Dimasa itu, kebaikan seolah menjadi barang asing. Itulah sebabnya mengapa ketika para Nabi datang membawa pencerahan; mereka dimusuhi. Ajaran dan ajakannya dinilai tidak relevan dengan keadaan. Dengan kegigihan para utusan itu kemudian manusia berjalan menuju cahaya. Dibawah bimbingan pribadi-pribadi agung itu orang-orang mulai beralih kepada kebaikan, hingga akhirnya keburukan tersisih sedangkan kebaikan menjadi sebuah kebiasaan. Ketika para Nabi dipanggil pulang, nilai-nilai kebaikan mulai terkikis lagi oleh keburukan yang menjanjikan kemudahan dan gelimang kenikmatan. Sampai akhirnya kebaikan yang dahulu asing itu kembali menjadi asing. Maka tidak perlu terlampau heran jika menyaksikan kompakkan sekelompok orang dalam mempertahankan keburukan. Bahkan tidak malu lagi mempertontonkan kepiawaiannya dalam melakukan keburukan itu. Karena, sudah menjadi fitrah bahwa kebaikan itu akan kembali menjadi barang asing. Namun, ada kabar baik bagi mereka yang masih tetap memiliki nilai-nilai kebaikan didalam dirinya. Karena dia langka. Maka nilainya sangat berharga.

2. Memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. 
Salah satu titik lemah kita adalah keadaan dimana kita merasa tidak berdaya. Kita tidak bisa berbuat apa-apa sehingga apa maunya lingkungan ya terpaksa diikuti saja. Penyebab utama keadaan ini adalah karena kita tidak memiliki kemampuan yang bisa diandalkan untuk meraih kecukupan dalam menjalani hidup. Beda sekali dengan orang-orang yang memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Mereka bisa membawa diri dengan sebaik-baiknya sehingga meski lingkungan buruk menuntutnya melakukan sesuatu, mereka masih bisa menjaga kemandirian. Pengaruh buruk lingkungan tidak bisa menjamahnya. Karena dengan kemampuannya yang bisa diandalkan, mereka tidak menggantungkan diri pada lingkungan yang buruk itu. Mungkin sudah saatnya kita belajar memampukan diri sendiri. Semakin kita sadar belum memiliki kemampuan itu, semakin kita terdorong untuk memulai membangunnya saat ini juga. Mungkin hari ini kita masih bergantung pada lingkungan. Namun, besok lusa, mungkin kita sudah bisa lebih berdaya. Beberapa tahun lagi, Insya Allah kita bisa membebaskan diri dari jerat pengaruh buruk lingkungan. Karena beberapa tahun lagi, mungkin kita sudah memiliki kemampuan yang bisa diandalkan. Lama nian? Tidak masalah. Itu jauh lebih baik daripada pasrah saja, mengikuti arus yang kita tahu tidak betul itu. Yuk, terus melatih diri. Agar perlahan tapi pasti, kita bisa mempersiapkan esok yang lebih baik. Dan lebih berkah lagi.

3. Membuang sifat serakah. 
Kita ini tidak miskin-miskin amat lho. Semua yang kita dapat cukup untuk menjalani hidup. Sayangnya, kita tetap saja merasa tidak cukup. Kita suka bingung kala membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Sehingga kita sering menginginkan segala sesuatu yang tidak kita butuhkan. Bahkan ketika semua kebutuhan hidup sudah terpenuhi, kita masih saja mengumbar keinginan terhadap ini dan itu. Bukan soal keinginannya yang salah, tetapi menyelaraskan keinginan itu dengan kemampuan aktual kita. Penghasilan kita – misalnya – cukup untuk menempuh hidup yang layak dan bermartabat. Namun gaya hidup kita, melampaui kemampuan sebenarnya. Makanya kita sering kepepet. Sedangkan kata ‘kepepet’ memiliki sahabat karib bernama ‘terpaksa’. Jika sudah ‘kepepet’, tiba-tiba saja kita berada pada situasi yang memungkinkan kita melakukan sesuatu karena  ‘terpaksa’ itu. Melihat bagaimana cara orang lain mengatasi keterpepetan itu, akhirnya kita terpaksa mengikuti mereka. Padahal, selama gigih berusaha dan berikhtiar; maka hidup kita sudah dijamin. Tuhan yang menjanjikan itu, seperti tertera dalam kitab suciNya. Namun, tidak ada ikhtiar yang bisa memenuhi tembolok yang dibuat dari kantung keserakahan. Maka agar bisa terhindar dari pengaruh buruk lingkungan, kita perlu membuang sifat-sifat serakah yang ada didalam diri kita sendiri.

4. Mengajak anggota keluarga untuk tetap baik. 
Sungguh tidak mudah untuk menjaga agar orang-orang terdekat kita tetap baik ditengah godaan lingkungan yang buruk. Khususnya terkait godaan hedonisme. Pameran barang mewah. Pertunjukan pelesir kesana kemari. Parade gadget keren dan berganti-ganti. Oh. Seperti serangan bertubi-tubi. Kita sendiri, mungkin bisa menangkisnya karena kita tahu persis sampai sejauh mana kemampuan aktual kita. Tetapi, anggota keluarga kita – istri – suami – anak-anak – sanggupkah mereka untuk kuat seperti kita? Pantas jika kitab suci mewanti-wanti; “Jagalah dirimu dan keluargamu….” Benar firman itu adanya. Buktinya, cukup banyak kan orang hebat yang jatuh karena keluarganya? Bahkan penasihat kehidupan rumah tangga pun belum tentu memiliki resep yang ampuh. Karena tak jarang mereka yang terampil menasihati orang lain pun tidak sanggup menolong dirinya sendiri. Maka kita hanya bisa meraba dan mencoba berbagai cara. Khususnya, cara-cara yang tertera dalam kitab yang dibuat melalui wahyu Ilahi. Semoga.

5. Meyakini adanya hari perhitungan. 
Hanya dalam film-film kebaikan selalu memenangkan pertempuran melawan keburukan. Dalam dunia nyata, keburukan sering lebih terorganisir, lebih kompak, dan lebih perkasa. Maka dalam dunia nyata, kita sering melihat kebaikan terkapar nyaris sekarat. Sedangkan keburukan berpesta pora diatas singgasana kemegahan berkilau gemerlap. Itulah dunia nyata. Maka ketika memilih untuk menjadi pribadi yang baik, mungkin kita akan berhadapan dengan kenyataan bahwa kebaikan-kebaikan yang kita praktekkan. Maupun nilai-nilai positif yang kita tebarkan. Seolah dikepung oleh kekalahan atas riuh rendahnya keindahan melakukan keburukan. Nikmat dan lezatnya kemunkaran. Nyaman dan menyenangkannya kebatilan. Maka kebaikan pun kalah telak. Itulah dunia nyata. Namun, sungguh beruntung orang-orang yang meyakini adanya hari perhitungan. Karena keyakinan itu memberi kita penghiburan bahwa setiap keburukan yang dilakukan oleh siapapun ada hitung-hitungannya. Demikian pula dengan setiap kebaikan yang ada catatan dan takarannya masing-masing. Maka selama meyakini hari perhitungan itu, hati kita menjadi tenteram. Dan kita tahu, bahwa kebaikan yang kita sedang upayakan ini; tidak membawa kita ke tempat manapun selain pahala yang kelak akan kita peroleh tanpa akhir.

Kantor Anda dipenuhi oleh orang-orang yang memamerkan cara-cara buruk? Lingkungan tempat tinggal Anda didominasi oleh perilaku-perilaku kotor? Tidak usah mengeluhkan itu. Cukuplah berfokus kepada 1 hal ini: meniru bagaimana caranya ikan bisa tetap tawar didalam air laut. Tahukah Anda mengapa ikan itu tetap tawar? Tepat sekali. Dia hidup. Maka selama ikan itu hidup, dia akan terus berjuang agar garam diair laut tidak mencemari tubuhnya. Bagaimana dengan kita? Yuk kita meniru sang ikan; selama kita hidup, kita akan terus berjuang agar pengaruh buruk lingkungan tidak mencemari diri kita. Karena selama ikan itu hidup, dia bisa memfungsikan sel khusus untuk menyaring garam. Sel itu bernama ionocyte. Karena selama kita hidup, kita bisa memfungsikan organ khusus yang menyaring keburukan. Organ itu. Bernama. Kalbu. Semoga.   

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman

Catatan Kaki:
Ketika keburukan terlihat dominan didalam lingkungan yang kita tinggali, kita memiliki 2 pilihan; mengikutinya. Atau menjadikannya penguat tekad untuk tetap menjadi baik.

KALUNGUSUS - 15.00

5 Mar 2012

Motivasi : Berat Banget Euy...

5 Mar 2012

Saya tidak membicarakan berat badan ataupun angkat berat kok. :) Saya hanya ingin share tentang betapa beratnya menggapai sesuatu. 


Punya impian dong? Apa yang ingin diraih/dicapai oleh kita dalam waktu dekat ataupun jangka panjang. Bagaimana? Sudah mewujudkannya belum? 


Beberapa hari belakangan saya memulai 'puasa' makan sejak jam setengah 7 malam hingga setengah 7 pagi. Tidak makan makanan yang berat. Bahkan kalau bisa hanya minum air putih. 


And... Ternyata berat banget. Karena sudah terbiasa untuk makan malam, sekarang, merasa sangat lapar kalau tidak makan. Sekarang memasuki hari ke-10 dan masih saja perut terasa keroncongan menjelang malam. Bagi yang berpuasa mungkin hal ini biasa tapi di awal-awal puasa, rasanya lebih berat.
CHALLENGE


Yah.. Itu yang saya rasakan. Tantangan untuk menjalaninya berat sekali rasanya dan juga godaan yang muncul dari waktu ke waktu. 


Seperti itu pulalah keadaan saat kita ingin meraih impian kita. Impian sejak kecil yang diidam-idamkan terasa sulit untuk dipenuhi. Untuk diraih. 


Sepertinya saat kita ingin meraihnya, ada saja yang menghadang/menghalangi kita. Entah dari masalah keuangan, keluarga tak mendukung, dan lain-lain. Hingga akhirnya, terkadang kita menyerah dan melepaskan impian kita. 


Tantangan (baca: hambatan) ini hadir terkadang untuk mengetes kita. Seberapa kuat keinginan kita untuk meraih impian kita itu. Dan apakah kita memang pantas untuk mendapatkan impian itu. Inilah yang seringkali dilupakan oleh kita hingga kita memutuskan untuk menyerah. 


'Jika bermimpi besar, tantangan akan semakin besar, tapi saat mendapatkannya, rasa bahagia akan lebih besar pula.' 


HOW BIG


How big is your dream? Bukan itu sebenarnya pertanyaan sentralnya. Tapi... How bad do you want it? Seberapa besar keinginanmu menggapai mimpi itu sendiri.


Semakin besar keinginanmu menggapainya, seberat apapun tantangan yang ada, kamu akan mampu melewatinya. Itulah yang diajarkan oleh para orang-orang sukses dulu. 


Tapi memang demikian adanya menurut saya. Kalau kita menginginkannya, sangat menginginkannya, tekad kita dan semangat kita takkan hilang, walau ada tantangan di hadapan. 


Kita akan terus dan terus berusaha. Mewujudkannya, apapun motivasi di baliknya, keadaan ini adalah nyata adanya. 


Jadi.. Cobalah tanyakan sekarang pada diri sendiri. 'How bad do I want it?'


ROAD BLOCK


Tantangan-tantangan yang ada di hadapan kita saat menggapai impian sebenarnya tidaklah sulit dilalui. Tapi ada satu tantangan terbesar dan menjadi musuh utama yang sulit diatasi. Yaitu diri sendiri. 


Yep... Diri sendirilah yang menjadi ROAD BLOCK terberat yang harus diatasi oleh kita saat menggapai mimpi. 


Pernah dengar kisah 7up kan? Si penemu formula awal bukanlah yang sekarang dikenal sebagai penemunya. Tapi orang lain. 


Orang ini menemukan formula minuman soda dan mencobanya. Hingga 6x. Tapi dia merasa gagal sehingga akhirnya menyerah dan menjual formulanya itu. Dan saat itulah formula yang dibeli direvisi dan tercipta 7up yang sekarang ini. 


Coba bayangkan orang yang menemukannya pertama kali. Kalau dia tak menyerah, mungkin di percobaan berikutnya, dia akan menemukan formula yang tepat itu. Tapi dia menyerah. Dia melepaskannya. 


Itulah road block terberat. Diri kita. Saat kita ingin berkata: 'I give up' saat itulah kita menjadi road block untuk menggapai mimpi kita. 


Tantangan dari luar, seperti omongan orang lain yang menjatuhkan saat kita ingin menggapai mimpi, dapat kita atasi selama kita yakin bahwa kita akan bisa! Tapi jika kita sendiri tak yakin, bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain bahwa kita akan berhasil. 


Ingat saja hal ini: bahkan Einstein, Thomas A. Edison dianggap gila oleh orang-orang di sekitarnya dulu. Tapi mereka bertahan. Karena mereka yakin akan diri mereka sendiri. Bahwa mereka mampu dan mereka membuktikannya. 


KNOWING


Kenali diri sendiri. Kelebihan dan kekurangan. Itu kunci dari segala kesuksesan. Pertajam kelebihan dan perbaiki kekurangan. 


Jangan takut kalau banyak kekurangan, karena tak ada manusia yang sempurna. Dan kekurangan bisa diperbaiki jika kita memang INGIN. 


Jadi.... Kenapa tidak raih mimpi kita? Walaupun berat... Tapi pasti bisa. 

KALUNGUSUS - 15.00

2 Mar 2012

Motivasi : Agar Layak Dibayar Mahal

2 Mar 2012

Catatan Kepala: ”Ternyata, kecerdasan kita tidak semata-mata dibangun oleh IQ, EQ, atau SQ belaka lho. Faktanya, setiap individu memiliki bentuk kecerdasan yang terintegarasi. Itulah Natural Intelligence.”

Sekarang sudah mulai banyak orang yang bertanya; apa sih Natural Intelligence (NatIn™) itu? Sungguh sebuah kabar yang bagus. Saya beruntung karena telah berkesempatan untuk mempelajari teori-teori tentang kecerdasan. Meskipun tidak menjadikan saya ahli di bidang itu, namun cukuplah untuk menjadi bekal dalam kehidupan dan profesi saya. Ada sebuah ciri yang dimiliki nyaris oleh semua teori kecerdasan yang kita kenal selama ini, yaitu; pengkotak-kotakan. Yang paling terasa sekali misalnya pengkotak-kotakan antara IQ, EQ, dan SQ. Berbeda sekali dengan Natural Intelligence (NatIn™) dimana kita, bisa menemukan system kecerdasan yang terintegrasi. Disini saya tidak akan membahas teorinya, namun fokus saja kepada aplikasinya. Misalnya, bagaimana kita menggunakan  NatIn™ untuk membangun sudut pandang pribadi dalam menjadikan diri kita layak untuk dibayar mahal sebagai seorang profesional.

Siapakah diantara Anda yang tidak menginginkan untuk dibayar mahal? Meskipun tidak tertarik untuk membayar tinggi terhadap sesuatu yang kita beli, namun kita selalu ingin mendapatkan bayaran yang tinggi. Pertanyaannya adalah; Apa yang membuat seseorang layak untuk mendapatkan bayaran mahal? Ada begitu banyak jawaban atas pertanyaan itu. Diantaranya ada yang menjawab ‘keahliannya’, ‘masa kerjanya’, dan ada pula yang menjawab ‘jabatannya’. Saya ingin mengajak Anda untuk menguji kebenaran jawaban itu, dengan menggunakan prinsip-prinsip Natural Intelligence (NatIn™). Mari kita mulai dengan menyimak 3 situasi berikut ini:

1. Keahlian. 
Banyak sekali orang yang memiliki kemampuan tinggi namun mereka tidak tertarik untuk benar-benar mencurahkan seluruh kemampuan yang dimilikinya hingga bisa menghasilkan sebuah karya yang betul-betul bernilai tinggi. Mereka sudah mengikuti berbagai macam program pelatihan, diklat, bahkan ada yang begelar master dan doktor; namun kinerjanya tidak jauh berbeda dengan orang lain yang tingkat kemampuannya berada dibawah mereka. Jika Anda mempunyai kolega yang kinerjanya sama saja dengan Anda, namun kolega Anda itu mendapat bayaran lebih mahal dari Anda, apakah Anda rela? Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun mempunyai kualifikasi keahlian yang tinggi, hal itu tidak berarti secara otomatis menjadikan seseorang layak mendapatkan bayaran yang mahal.

2. Masa kerja. 
Kita mengenal begitu banyak orang yang memiliki masa kerja yang sangat lama sekali. Namun semakin lama mereka bekerja, mereka semakin merasa bosan dengan pekerjaannya. Setiap hari mereka berangkat dari rumah kekantor dengan perasaan yang sangat berat didalam dada. Begitu tiba diruang kerja, mereka duduk di kursi kerjanya tanpa gairah. Ketika mengerjakan tugas-tugasnya, mereka merasakan kehampaan sehingga yang penting bisa muncul di kantor pada jam kerja, dan semua pekerjaan ‘dikerjakan’ alakadarnya saja. Menurut pendapat Anda, apakah orang-orang seperti itu layak mendapatkan bayaran yang mahal?  Fakta ini pun menunjukkan bahwa meski mempunyai masa kerja lama, namun seseorang tidak secara otomatis layak mendapatkan bayaran yang mahal.

3. Jabatan. 
Ada cukup banyak kejadian dimana orang-orang yang memiliki jabatan tinggi terlena dengan jabatannya sampai-sampai mereka lupa untuk terus mengembangkan diri sehingga orang lain berkembang lebih pesat dan lebih cepat dari dirinya. Beberapa tahun kemudian, mereka baru sadar jika dirinya sudah tertinggal jauh oleh orang-orang yang sebelumnya berada dibelakang mereka. Fakta ini pun menunjukkan kepada kita, bahwa menduduki jabatan tinggi bukanlah jaminan bahwa seseorang layak mendapatkan bayaran yang mahal.

Selanjutnya, mari kita simak 2 situasi lainnya berikut ini:

4. Ketulus-ikhlasan. 
Banyak contoh yang ditunjukkan oleh orang-orang yang tulus dalam bekerja. Mereka memulai karir dari tingkatan yang tidak terlalu bergengsi. Namun ketulusannya dalam bekerja telah membawanya kepada dedikasi yang begitu tinggi sehingga setiap hari ketika berangkat dari rumah, mereka bertekad untuk memberikan kontribusi terbaik melalui pekerjaannya. Ketika tiba di kantor, mereka bergembira untuk mengerahkan seluruh kemampuan, keahlian dan daya diri yang dimilikinya kedalam pekerjaan dan tugas-tugas yang ditanganinya pada hari itu. Setiap pekerjaan yang diterimanya diselesaikannya dengan sepenuh hati sehingga tidak ada cacat yang dibiarkannya menodai hasil kerjanya. Ketika hari menjelang sore, mereka merasa puas dengan semua upaya yang sudah dikontribusikannya sepanjang hari itu sehingga mereka meninggalkan kantor dengan perasaan lega dan lapang dada. Setibanya di rumah, mereka bersyukur karena hari itu telah berhasil menunaikan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Maka ketika bertemu dengan istri atau suami dan anak-anaknya mereka masih menyisakan rasa gembira itu sehingga bisa menikmati saat-saat di rumah bersama keluarganya. Mereka puas dengan kehidupan rumahnya. Dan mereka tulus ikhlas dalam menjalani kehidupan kerjanya. Keesokan harinya, mereka berangkat ke kantor lagi dengan semangat dan antusiasme yang tinggi seperti dihari-hari sebelumnya.

5. Perilaku positif. 
Menjelang akhir tahun tiba selalu ada penilaian terhadap kinerja setiap karyawan. Selain hasil kerja, juga dinilai perilaku kerja dan bagaimana karyawan menjalani hari-harinya di kantor. Atasan tidak hanya menilai segala sesuatunya diatas kertas, melainkan merasakan suasana dan dampak dari kehadiran setiap karyawan di ruang kerjanya masing-masing. Pelanggan juga sama. Mereka bisa merasakan pelayanan istimewa yang diberikan oleh orang-orang yang tulus dengan pelayanan asal-asalan dari mereka yang bekerja secara terpaksa. Cara mereka tersenyum. Cara mereka menyapa. Cara mereka melakukan sesuatu untuk pelanggannya, sungguh sangat berbeda sehingga pelanggan bisa merasakannya dengan jelas dan membedakannya secara kontras. Tidak heran jika atasan, teman, maupun pelanggan mereka memberikan nilai yang tinggi atas kualitas kerja yang sudah didedikasikannya.

Sekarang, cobalah temukan kaitan antara situasi nomor 4 dan nomor 5, serta pengaruhnya terhadap peluang utilisasi situasi 1, 2 dan 3. Kemudian, renungkanlah dampak ke-5 situasi terhadap kelayakan seseorang mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Gampangnya begini; seseorang tidak cukup hanya memiliki keterampilan kerja, masa kerja, dan jabatan untuk memperoleh bayaran yang lebih tinggi. Dia butuh ketulus-ikhlasan dalam bekerja sehingga terdorong untuk menggunakan seluruh daya diri yang dimilikinya. Dan dia, butuh berperilaku baik sehingga keunggulan pribadinya bisa dikonversi menjadi kompatibilitas yang tinggi degan lingkungan kerjanya.

Saya menguraikan situasi-situasi itu dengan prinsip-prinsip Natural Intelligence (NatIn™). Disini terlihat sekali bahwa Natural Intelligence dapat diaplikasikan dalam beragam aspek kehidupan kita. Untuk pengembangan diri. Untuk Kehidupan sehari-hari di rumah dan lingkungan tempat kita tinggal. Maupun untuk meningkatkan daya kualitas kerja dan kepemimpinan kita. Tapi landasan konstruksi ilmiahnya apa? Mungkin Anda bertanya demikian. Artikel ini memang dikhususkan untuk menunjukkan aplikasinya supaya bisa sesuai dan terkait langsung dengan kehidupan keseharian kita. Namun, pertanyaan Anda itu merupakan sebuah awal yang baik untuk mempelajari dan mendalami Natural Intelligence (NatIn™) lebih lanjut. Cobalah. Karena dengan ilmu ini kita bisa lebih memahami bentuk kecerdasan hakiki kita secara terintegrasi. Bukannya terkotak-kotak seperti halnya teori-teori kecerdasan yang selama ini kita kenal.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Author & Trainer of Natural Intelligence Leadership

Catatan Kaki:
Kecerdasan kita itu tidak terkotak-kotak hanya sebatas IQ, EQ, Atau SQ belaka. Karena tubuh kita ini, merupakan satu kesatuan yang terintegrasi.

KALUNGUSUS - 15.30

1 Mar 2012

Motivasi : Apa Yang Menyebabkan Karir Seseorang Cemerlang?

1 Mar 2012

Catatan Kepala: ”Ditengah bejibunnya orang yang pusing dengan bayaran rendah, ada sejumlah orang yang terus membangun kecemerlangan karirnya sehingga tidak lagi pusing soal angka yang tertera dalam slip gajinya.”

Kita tidak bisa mengetahui masa depan secara pasti. Tetapi urusan karir, dari dulu saya percaya bahwa kita bisa memperkirakan masa depan. Misalnya, kita bisa melihat orang-orang yang bekerja di sekitar kita. Dan kita, bisa memperkirakan siapa yang akan menjadi manager lalu terus menanjak menjadi senior manager, direktur bahkan presiden direktur. Kita juga bisa memperkirakan siapa yang akan mentok, atau yang hanya akan begitu-begitu saja sepanjang karirnya. Saya pernah melakukan uji coba sendiri, dengan mengamati orang-orang yang bekerja sebagai profesional. Meski tidak 100% akurat, tetapi boleh dibilang ‘hampir 100%” perkiraan saya benar. Tidak butuh menjadi paranormal untuk ‘meramalkan’ masa depan karir seseorang. Cukup melihat sikap, perilaku, dan tindakannya selama bekerja sehari-hari, maka kita bisa ‘meramalkan’ masa depan karirnya. Anda pun bisa menjadi peramal karir. Minimal meramalkan masa depan karir Anda sendiri. Mau?

Kemarin siang sebelum meeting, tanpa diduga saya bertemu dengan seorang sahabat. Hanya sebentar sekali karena kami sedang sama-sama dikejar jadwal masing-masing. Walhasil, hanya sempat bertukar kartu nama. Bahagia saya membaca titelnya sebagai seorang pemimpin puncak sebuah perusahaan di pusat bisnis mentereng kelas atas. Saya mengenal sahabat saya itu sejak masuk kampus dulu. Meskipun sudah jarang bertemu, saya memperhatikan beliau dari jauh. Membaca perkembangannya di jejaring para profesional. Hingga kemarin, saya bertemu beliau sekali lagi. Bagi saya, beliau adalah salah seorang model profesional yang dengan tekun membangun karirnya setapak demi setapak sampai berada di puncak. Ditengah bejibunnya orang yang pusing dengan bayaran rendah, ada sejumlah orang yang terus membangun kecemerlangan karirnya sehingga tidak lagi pusing soal angka yang tertera dalam slip gajinya. Ini adalah pertanda bahwa mereka mengetahui cara yang kebanyakan orang lain tidak mengetahuinya. Kita butuh berguru atau meniru orang-orang seperti itu. Khususnya ditengah hiruk pikuk protes dan kekesalam begitu banyak karyawan soal bayaran atau jenjang karirnya yang tidak kunjung memperlihatkan perbaikan. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar dari mereka yang berhasil membangun karir cemerlangnya, saya ajak memulainya dengan menerapkan 5 prinsip Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini: 
1. Memiliki visi terhadap masa depan karirnya sendiri. 
Bukan hanya perusahaan yang membutuhkan visi. Kita pribadi pun demikian. Mengapa? Karena visilah yang bisa memberi kita kekuatan untuk terus melangkah maju ketika tiba masa-masa sulit atau jebakan berbagai godaan. Kehidupan kerja kita, tidak selamanya mudah. Namun, setiap kali berpegang teguh pada visi; semua cobaan itu menjadi semakin kecil. Selama bekerja, kita juga dihadapkan pada banyak godaan. Banyak sudah orang yang kepeleset. Namun, selama kita mengingat visi pribadi kita, maka kita akan sanggup berkelit agar terbebas dari jerat yang bisa menodai perjalanan karir kita. Bukankah banyak orang cemerlang yang berguguran hanya karena ketahuan melakukan satu kesalahan fatal dalam karirnya? Bangunlah visi pribadi yang kokoh untuk masa depan karir Anda. Maka Insya Allah, Anda bisa lebih sanggup untuk menghadapi beratnya cobaan, dan mengatasi semenggiurkan apapun godaan.

2. Terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. 
Saya memperhatikan orang-orang yang saat ini menduduki posisi-posisi penting dalam karirnya. Menelisik ke belakang sewaktu mereka baru memulai karir itu sebagai fresh graduate alias belum berpengalaman apapun. Ternyata, mereka tidak beda banyak dengan kebanyakan orang lainnya. Sama grogi dan culunnya seperti kita. Ilmunya juga tidak terlampau jauh dari kita. Tetapi, mereka melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh kebanyakan orang pada umumnya, yaitu; terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri. Begitu banyak orang yang merasa cukup dengan semua pengetahuan dan keterampilan kerja yang dimilikinya. Sehingga dengan semua kehebatannya itu, mereka merasa sudah memuncaki kualitas profesionalnya. Tak jarang mereka mempermasalahkan; kenapa gue yang hebat ini dibayar segini doang!?. Beda banget dengan orang-orang yang patut menjadi model yang saya sebutkan tadi. Meskipun ilmunya semakin tinggi, mereka tidak pernah merasa sudah tinggi. Mereka teruuuus saja meningkatkan kualitas profesionalismenya. Makanya, orang yang merasa hebat dan canggih sering ketinggalan oleh mereka yang terus mengasah diri. Karena mereka yang terus belajar dan meningkatkan diri menapaki tingkatan yang semakin tinggi dan tidak tertandingi.

3. Membuat kinerja tinggi dengan optimalisasi diri. 
Setiap karyawan dipekerjakan untuk mengkontribusikan kinerja dalam kadar tertentu. Tertera dalam job descriptonnya, dan dipaparkan secara detail melalui strategic objective tahunannya. Banyak orang yang kinerjanya bagus, memang. Namun kebanyakan orang mendedikasikan  kinerja tinggi itu hanya untuk uang semata. Maka ketika imbalan yang diterima mereka nilai tidak sepadan dengan kontribusi yang mereka berikan kepada perusahaan, mereka kemudian ‘mengerem’ kinerjanya hingga menjadi biasa-biasa saja. Maka kinerja tingginya pun segera berakhir. Para model profesional itu berbeda. Mereka tidak memusingkan soal imbalan sekarang. Karena mereka percaya bahwa ada hal yang lebih penting dari sekedar imbalan, yaitu; aktualiasi dari kemampuan dirinya. Mereka terus saja fokus kepada usaha-usaha mengoptimalkan kapasitas diri. Makanya, tidak heran jika kinerja tingginya tidak terpengaruh oleh faktor luar. Dalam jangka pendek, mungkin tidak ada bedanya imbalan yang mereka terima dengan apa yang didapatkan oleh orang lain yang bekerja biasa-biasa saja. Namun dalam jangka panjang, cepat atau lambat mereka akan memperoleh perbedaan secara signifikan.

4. Membangun reputasi 360 derajat. 
Karir seseorang tidak bisa dibangun hanya dengan reputasi baik dihadapan orang-orang terntentu. Mungkin memang ada orang yang karirnya menanjak hanya karena reputasi baik didepan atasannya belaka. Namun tetap saja, karir yang dibangun dengan reputasi 360 derajat jauh lebih berbobot dan lebih lestari. Apa artinya reputasi 360 derajat itu? Yaitu reputasi tinggi yang kita bangun dihadapan semua orang yang berkaitan dengan karir kita. Bukan hanya bagus dihadapan atasan, melainkan juga bagus dimata kolega, bawahan, departemen lain, pelanggan, bahkan pesaing-pesaing kita. Pendek kata, reputasi yang dibangun dihadapan orang-orang sekeliling kita. Orang yang berhasil membangun reputasi 360 derajat ini pada saatnya kelak akan berhasil memanen buahnya berupa kepercayaan dan kesempatan yang tidak dipertanyakan keabsahannya. Karena semua orang tahu, bahwa dia memang layak mendapatkannya. Jika belum terasa manfaatnya, konsisten dan bersabar saja.

5. Tetap rendah hati meski memiliki posisi tinggi.
Diantara orang-orang yang berhasil membangun karir cemerlangnya, memang ada banyak yang sombong, angkuh dan lupa diri. Namun, sejauh yang saya ketahui sebagian besar diantaranya justru adalah mereka yang tetap rendah hati. Mereka tidak merendahkan orang lain hanya karena posisinya lebih tinggi. Justru mereka memuliakan orang lain dengan jabatan tinggi yang disandangnya. Lagi pula, jika posisi kita sudah tinggi; mengapa kita harus bersikap tinggi hati, kan? Karena tanpa diminta pun orang lain akan menghormati kita. Hanya saja, apakah penghormatan orang lain itu tulus atau tidak; sangat ditentukan oleh cara kita membawakan diri. Kita mungkin menaruh hormat kepada orang berposisi tinggi namun tinggi hati. Namun, kita kan tidak tulus menghormati mereka. Beda sekali dengan rasa hormat yang kita berikan kepada orang yang berposisi tinggi namun tetap rendah hati. Mereka benar-benar layak mendapatkan penghormatan setulus hati. Itulah sebabnya, mengapa hati kecil kita sering berharap orang tinggi hati segera diganti oleh orang-orang yang berkualitas tinggi namun tetap rendah hati.

Orang bilang, sulit sekali membangun karir di zaman yang penuh persaingan ini. Anggapan itu hanya cocok bagi orang-orang yang tidak mengetahui caranya. Sedangkan bagi orang-orang berilmu, kenaikan jenjang karir itu seperti naik tangga sebuah gedung yang indah. Perlahan tapi pasti. Setapak, demi setapak. Hingga akhirnya bisa sampai ke puncak. Bahkan, diantara mereka ada yang tahu jalur cepatnya. Maka seperti naik lift saja, mereka bisa menuju kesana dengan cara-cara yang mengagumkan. Jika kita masih merasa sulit membangun karir ini. Atau tergoda untuk menyalahkan boss dan lingkungan kerja yang tidak mendukung, mungkin sudah saatnya untuk belajar kepada mereka yang mengetahui bagaimana cara mengatasinya. Carilah orang-orang seperti itu.

Salam hormat,
Mari Berbagi Semangat!
DEKA - Dadang Kadarusman
Author & Trainer of Natural Intelligence Leadership

Catatan Kaki:
Bukan tidak mungkin untuk menapaki jejang karir yang lebih tinggi. Barangkali kita tidak tidak tahu caranya saja. Atau tidak bersungguh-sungguh menapaki jalannya.

KALUNGUSUS - 15.30

19 Feb 2012

12 kata "Jangan" yg perlu dihayati :

19 Feb 2012


1. Jangan menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.

2. Jangan menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.

3. Jangan menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.

4. Jangan menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan.

5. Jangan menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, � api pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.

6. Jangan menunggu terinspirasi baru menulis. tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.

7. Jangan menunggu proyek baru bekerja, tapi bekerjalah, maka proyek akan menunggumu.

8. Jangan menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai,maka kamu akan dicintai.

9. Jangan menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah,. bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.

10. Jangan menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah,maka kamu akan menjadi contoh yang diikuti.

11. Jangan menunggu sukses baru bersyukur. tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.

12. Jangan menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!

KALUNGUSUS - 14.08